Featured Posts

Prediksi sepak bola - Visi dalam mencari titik berat... Liga sepakbola dalam Myanmar start mengisyaratkan perbaikan pada sejumlah tahun belakangan. Tak heran kalau kru nasional U-19 mereka belakangan menanjak atau nantinya kesebelasan superior bermain menawan...

Read more

Wap.ibcbet - Lubang Hitam Arsenal juga Manchester United Untuk paham Arsene Wenger, kita butuh melihatnya dengan sudut pandang seorang sopir taksi. Tips menyetirnya bukan yang terhebat oleh acap salah pada menjemput keputusan. Wawasan urusan arah jalan pun gak...

Read more

Judi onlain - Jalan Panjang buat David Moyes Jalan teramat lama yang bisa ditempuh seseorang siap tampil bukanlah jalan pulang menumpu rumah yg dirindukan atau pun jalan pergi ke mimpi yang diidam-idamkan. Sanggup jadi jalan buat memperbaiki identitas...

Read more

Pasaran tarohan bola - Brendan Rodgers: Football Genius... Masih ingat surat tempelan yg sering dibawa fan lawan tatkala Manchester United bertanding musim sebelumnya? Dgn gambar David Moyes besar-besar, ditulislah frase "Football Genius" di sebelahnya. Sayangnya,...

Read more

Pasang bola online - Asal usul dan Trivia Piala AFF:... Piala AFF sewajarnya lahir di masa yg tak begitu menggembirakan. Tak lambat setelah kelahirannya, resesi ekonomi menjangkit ke mana-mana, ke segala negara, termasuk Asia Tenggara. Belum lagi guncangan...

Read more

  • Prev
  • Next

Prediksi sepak bola – Visi dalam mencari titik berat penghidupan.

Category : Agen Sbobet

Liga sepakbola dalam Myanmar start mengisyaratkan perbaikan pada sejumlah tahun belakangan. Tak heran kalau kru nasional U-19 mereka belakangan menanjak atau nantinya kesebelasan superior bermain menawan dalam Piala AFF 2014. Laga sepakbola di ‘Negeri Tanah Emas’ tersebut memanglah selagi menyusun.test1

Tahun 1996 berdokumentasikan memerankan awal dimulainya liga sepakbola di Myanmar. Namanya Myanmar Premier League (MPL). Liga itu berjalan selama 13 tahun datang setelah itu berhenti dalam tahun 2009.

Mempertimbangkan keadaan strategi Myanmar saat tersebut, sebab itu klub-klub kontestan liga pun pula bukan team asal-asalan. Mulai tahun 1962 sampai 2011, Myanmar ada untuk pasungan penguasa yang otoriter. Yang amat kritis ialah junta militer dari 1997 sampai 2011. Mengingat situasi ini, sebagian besar berkandang di Yangon –ibukota Myanmar sebelum pindah ke Nay Pyi Taw, serta ialah milik kementerian pemerintah beserta cuma sejumlah club swasta.

Di dalam kurun waktu itu, kesebelasan nasional Myanmar pun seakan sulit berprestasi. Mereka tak sempat memikat piala, terutama di medan regional Asia Tenggara. Rengkuhan terhebat Myanmar hanyalah jadi semifinalis Piala AFF pada tahun 2004.

Myanmar National League Jadi Era Baru

Selepas MPL, terselip liga baru di Myanmar. Liga menyerap ke era berpengalaman dgn sebutan Myanmar National League (MNL). Tatkala tersebut, tahun 2009, memerankan musim pertamanya.

Pada gelaran pertamanya, MNL diikuti oleh delapan pasukan trendi. Klub tersebut yakni kesebelasan swasta yang muncul bersama-sama dgn bergulirnya musim perdana kasta tertinggi sepakbola negeri yang dikenal dengan batu gioknya ini.

Sejauh enam musim MNL melintas, 2 klub oleh sebab itu penguasa: Yangon United dan pula Yadanarbon FC. Dua-duanya sama-sama tiga kali berhasil jadi juara MNL.

Kala gelaran Piala Asia U-19 di Myanmar dalam bulan Oktober yg lalu, detikSport ada peluang guna menyimak keliru kandang Yangon United. Kebetulan, kru nasional Indonesia U-19 berlatih pada kandang Yangon United, Yangon United Sports Complex.

Jangan bayangkan area Yangon United ini ialah stadion megah. Seandainya Anda pernah datang di stadion Surajaya, Lamongan, kandang Persela Lamongan yg berkapasitas 15. 000 orang2 ini jauh kian besar. Keahlian Yangon United Sports Complex cuma 3. 500 orang.

Lapangan teritori Yangon United bersinggungan, disewakan buat umum ketika sedang gak dikenakan. Sekitar orang2 ekspatriat bersama warga Myanmar tampak mencari keringat dengan bermain sepakbola. “Kami benar-benar biasa mengontrak serta bermain di sini, ” ucap salah seorang ekspatriat daripada industri telekomunikasi yang sedang mendirikan jaringan di Yangon.

Gak cuma tersebut, toko merchandise pun juga ada. Ukurannya gak besar memang, cuma kira-kira 6×6 meter. Akan tetapi, barang yg dijajakan benar-benar sempurna lengkap. Dari jersey, celana skuad, kaos kaki, mug, hingga gantungan kunci.

Sponsor kendati pula tidak ketinggalan. Sebuah perusaahan apparel daripada Thailand, Grand Sport, & pula Asia Green Development Bank (AGD), setia menjadi penyokong mulai kesebelasan ini berdiri tahun 2009 tersebut.

1 prestise pula diberikan sama setiap warga Yangon kala tersedia seseorang yg mengenakan jersey resmi pemain. “Jersey resmi Yangon United. Bagus-bagus, ” ucap salah seorang yg memandang detikSport menggunakan jesey Yangon United pada salah satu jalan di sekitar Sule Pagoda.

Lumrah bahwa klub-klub pada Myanmar mesti kreatif utk mencari dana utk siap hidup. Omongan dgn seorang sopir taksi, Aung San, siap menjawab perbahasan itu.

“Di Myanmar, kami tidak dapat berutang, tidak ada yang namanya pinjaman. Semua kudu dibayar dengan uang tunai. Kartu kredit juga nggak diizinkan sama pemerintah, ” ujar pria yg pernah mengembara ke Malaysia ini.

VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 0 (from 0 votes)

Wap.ibcbet – Lubang Hitam Arsenal juga Manchester United

Category : Agen Sbobet

Untuk paham Arsene Wenger, kita butuh melihatnya dengan sudut pandang seorang sopir taksi. Tips menyetirnya bukan yang terhebat oleh acap salah pada menjemput keputusan. Wawasan urusan arah jalan pun gak mutakhir sampai-sampai sering kali ia harus bertanya terlebih dahulu “Mau lewat mana? ” terhadap penumpang yg malangnya pula pasrah diboyong ke mana-mana.test1

Kadang cara mengemudinya pun kadang kala membinasakan penumpang karena lupa kapan mesti menginjak rem. Yang ia tahu cuma menggenjot pedal gas. Buat menjauhi hal-hal yang tak diinginkan, sopir taksi yg berakal mesti tahu bagaimana tips memilih2x penumpang. Ia kerap lalai mengelola ini serta berhujung di penumpang yg kabur turun pada jalan pra membayar argo perjalanan.

Namun Wenger ialah pekerja keras dan, walaupun dengan semua kemalangan yg gak sempat menyingsing menyertainya, setiap hari ia terus-menerus dapat menggenapi bayaran. Tugas yang diberikan kepadanya tak pernah gagal ia emban. Pihak manajemen taksi gak terlalu ambil pusing urusan demonstrasi serta komplain yg disampaikan sebab jalan mengemudi Wenger yg gak lagi relevan dalam masa waktu ini. Sepanjang jumlah setoran tercapai, mereka tak mempermasalahkan apa cara penguasaan sopir mereka di jalan.

Taksi tempat Wenger bekerja tak sempat menggerakkan tumpuan memenangkan pujian perusahaan taksi terbaik. Mereka hanya peduli dalam cashflow and balance yg hendak terus ada pada pemastian tetap selama masa apa-apa yg diminta terus-menerus siap dikasih.

Bakal sangat sulit bagi menyatakan kalau segalanya yg diminta sama Arsenal setiap musimnya makin dr setimpal masuk pada Liga Champions. Karena seumpama tak, Wenger udah didepak dari jauh-jauh hari. Apa boleh buat, standar yg ditetapkan sama Arsenal cuma begitu juga Wenger tidak pernah gagal masuk ke Eropa.

Lupakan The Professor, karena Arsene Wenger adalah The Chauffeur.

Tadinya aku akan menuliskan Wenger adalah The Taxi Driver, tetapi saya takut Robert De Niro hendak tersinggung. Tak menyerupai Wenger, Travis Bickle tak puas dengan mediokritas.

Untuk film blockbuster tahun ini, Interstellar hampir tak mempunyai sifat antagonis kecuali Dr. Mann yang diperankan sama Matt Damon. Momen Cooper & Amelia sedang bergaduh hebat pada planet mana mereka hendak mengangkat Endurance bagi terlintas selanjutnya, Cooper berargumen jika Planet Mann yaitu zona yang mesti mereka tuju soalnya menurunkan sinyal data yang bertambah menjanjikan dibanding dgn Planet Edmunds, zona pilihan Amelia

Mereka berdua pun mengangkat Endurance ke Planet Mann hanya utk menemukan jika selama masa ini Dr. Mann menyalurkan keterangan palsu & kesempatan kosong mengenai masa depan umat manusia, semata agar dirinya mampu terselamatkan.

Belum dapat disebut jika informasi yang hadir Manchester United sekitar itu adalah keterangan palsu, akan tetapi mereka udah hampir separuh musim berada pada Planet Louis & mineral pembentuk hasil yg tadinya mereka pikir akan dikasih oleh Van Gaal belum juga hadir.

Setara seperti Cooper juga Amelia yg berhajat bahwa mereka akan memperoleh satelit baru yg seperti dengan bumi untuk ditinggali, United pula tadinya mengira kalau mereka sudah meraih seseorang yg bakal mengeloskan sesuatu yang sepadan dgn era Sir Alex Ferguson. Apa boleh buat, ekspektasi yakni sebab atas kehampaan. Gak sekutil fans United yg mengira bahwa, The Red Devils hendak seketika kembali jadi bakal juara Premier League. Tapi yang tercipta, mengacu pada statistik bahkan kala ini Louis van Gaal tidak kian baik dari David Moyes musim sebelumnya.

VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 0 (from 0 votes)

Judi onlain – Jalan Panjang buat David Moyes

Category : Agen Sbobet

Jalan teramat lama yang bisa ditempuh seseorang siap tampil bukanlah jalan pulang menumpu rumah yg dirindukan atau pun jalan pergi ke mimpi yang diidam-idamkan. Sanggup jadi jalan buat memperbaiki identitas atas jejuluk jelek kian panjang serta melelahkan.test1

Awalnya, David Moyes yaitu pendidik yang sempurna bagus. Tdk luar biasa, tapi rada bagus. Moyes dapat terlaksana belum pernah memenangkan trofi satu kendati, namun, 11 tahun mengurus Everton merupakan tinjauan yg lumayan. Ada pemahaman kalau Moyes mampu menjaga kesetimbangan 1 buah tim, kendati pun itu cuma berkutat di kediaman tengah sepanjang lebih atas satu dekade.

Kemantapan itu jugalah yang jadi dalil Manchester United menunjuknya tampil manajer trendi di 2013. Terbiasa ditangani satu manajer selama masa lebih daripada dua dekade menciptakan United menyampaikan Moyes syarat enam tahun. Mereka berharap Moyes bisa mendirikan satu tim baru lewat sebuah proses. Tetapi, begitu seleret impresi kurang menuntungkan didapat sama United, gak ada lagi yang namanya prosedur.

Hasil di lapangan siap jadi sekutil ditolerir misal aja pertunjukkan United menjanjikan. Tetapi, udah meraih kinerja kurang menuntungkan, suguhan United pada tangan Moyes pula terbilang monoton. Alih-alih menjadi skuad yg tampil menyerang, United malah menjadi tim yg main rigid bin waspada.

Atas enam tahun kontrak yang diterimanya, Moyes hanya sanggup melakoni 10 bulan di antaranya. Kepastian United tidak berhasil menanjak pada Liga Champions musim 2014/2015 membuatnya dipecat.

Juni 2014, di bawah langit terang Miami, Moyes terbit dengan setelan santai. Dia sedang merenung kompetisi perkawanan Inggris vs Ekuador begitu itu & muncul tampak baik-baik saja buatnya.

Ketika dia didepak daripada United 2 bulan sebelumnya, Moyes serta-merta memutuskan utk hilang menjauh. Dia menjinjing sang istri, Pamela, pergi berlibur jauh ke selatan hingga dengan ke Florida utk menikmati situasi tepi laut. Sesekali, dia juga terlihat bermain golf dengan kolega-koleganya. Moyes seperti melewati kehidupan tenang, jauh dr ingar-bingar tindasan selama 10 bulan sebelumnya.

Bahwa Everton sepeninggal dirinya sekiranya jadi makin baik dan pendukung United rela-rela aja dia hilang, menghasilkan Moyes jadi sedikit terlupakan. Seandainya diingat, dia bakal kian diidentikkan pada kekalahan United ketimbang di dalam masa 11 tahunnya dalam Everton. Soalnya nilai setitik di klub gede, rusaklah susu sebelanga. Moyes memperoleh stigma negatif dan jejuluk “manajer buruk” yg mau gak mau harus dia hilangkan.

Masa di mana Moyes tidak bekerja ini gak ubahnya segmen seorang samurai yg baru dipecat tuannya. Pada keadaan gak bertuan laksana itu, si samurai tak bertuan (ronin) kemudaratan tujuan –dalam unsur ini melayani tuannya– &, untuk kelanjutannya, definisi atas hidupnya.

Diceritakan gimana ke-47 orang2 samurai kehilangan tumpuan ketika si tuan dibunuh. Tujuan mereka setelah itu, di dalam akhirnya, yaitu menangkis dendam si tuan. Ketika dendam tersebut terbayarkan, juga artinya tujuan mereka tercapai, ke-47 ronin tadi hasilnya sama-sama mengerjakan seppuku.

Dalam cerpen Rashomon yang ditulis oleh Ryunosuke Akutagawa, diceritakan gimana seorang Genin (diterjemahkan ke di bahasa Indonesia serupa Samurai Kelas Bawah) gelagapan bukan kepalang. Tak apa-apa, dia baru aja dipecat sama tuannya beberapa hari sebelumnya.

Alih-alih salah tingkah, Genin tadinya menyeleksi berteduh di bawah gerbang 1 buah kuil seraya termenung mengamati memperhatikan. Seraya mengopek-ngopek jerawat di pipi kanannya, si Genin duduk tenang serta memikirkan bagaimana nasibnya esok hari. Pilihan di benaknya cuma terselip satu: hampa kemudian mati kelaparan.

VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 0 (from 0 votes)

Pasaran tarohan bola – Brendan Rodgers: Football Genius ataupun Hanya Beruntung?

Category : Agen Sbobet

Masih ingat surat tempelan yg sering dibawa fan lawan tatkala Manchester United bertanding musim sebelumnya? Dgn gambar David Moyes besar-besar, ditulislah frase “Football Genius” di sebelahnya. Sayangnya, ini sama sekali tidak pujian bagi eks manajer Everton ini.test1

“Football genius” nama lain jenius sepakbola yg dilekatkan pada Moyes semakin merupakan sindiran akibat hasil-hasil jelek yg diperoleh United sepeninggal Sir Alex Ferguson. Bobroknya gapaian Red Devils dalam bawah didikan Moyes dalam musim 2013/14 segera aja ditimpakan dalam pria Skotlandia ini.

Musim ini, terselip satu orang yg berpotensi dilabeli panggilan tersebut. Sapa dia? Manajer Liverpool, Brendan Rodgers. Alasannya, The Reds kala ini sedang sial dalam liga serta juga Liga Champion. Daripada semuanya 13 duel dalam dua ajang itu, Steven Gerrard udah menderita 7 kekalahan serta 2 kesempatan seri.

Perolehan itu melenting 180 derajat dr pencapaian musim silam dalam mana Liverpool hampir menundukkan Premier League sebelum khatam di posisi runner-up. Padahal Rodgers menghabiskan upah sejumlah 130 juta pound lebih di perbisnisan transfer. Uang sejumlah ini berubah bentuk pada bentuk sembilan pemain trendi Liverpool, dengan satu di antaranya dipinjamkan kembali ke klub pangkal.

Menghabiskan uang banyak & terseok-seok pada papan klasemen, Rodgers serta-merta dijadikan bakal olok-olok. Pasalnya musim silam mulutnya pernah nyinyir berpendapat Tottenham Hotspur yg menguras lebih dari 100 juta pound tetapi susah payah mendapatkan tiket ke Europa League.

“Dgn dana belanja lebih dari 100 juta pound, satu pasukan sepatutnya bersaing dalam jalur perselisihan juara, ” begitu kata Rodgers akan halnya Spurs momen itu. Kata-kata yg saat ini berbalik kepadanya.

Minggu ke 2 aja Liverpool sudah menelan kegagalan. Namun demikian tandingan yang dihadapi kala itu, Manchester City, merupakan juara bertahan sekalian diperkuat pemain-pemain mahal, alhasil kegagalan pada Etihad Stadium sanggup dimaklumi. Tetapi demikian Aston Villa, West Ham United dan terakhir Newcastle United mampu meruntuhkan The Reds, semakin transparan tampak jika Rodgers menemukan masalah.

Blunder Transfer

Orang-orang dengan gampang menghubungkan melorotnya performa Liverpool musim tersebut dengan penjualan Luis Suarez. Tidak kebetulan pula kalau menterengnya penampilan Liverpool musim silam didominasi oleh kelakuan El Pistolero. Torehan 31 gol plus seleret assist & kenang-kenangan penalti yg dikarenakan sama akselerasinya mendukung Liverpool menciptakan 101 gol musim lalu.

Hengkangnya Suarez ke Barcelona menandakan Liverpool kekurangan sosok yang berandil mengenai setidaknya sepertiga gol musim lalu. Hanya saja melekatkan melorotnya intensitas Liverpool musim ini semata-mata di dalam berhentinya Suarez tentu aja terlalu menyederhanakan masalah. Persoalannya lebih daripada itu

Ya, penjualan Suarez yakni kesialan besar buat Liverpool. Namun, Suarez membuat kas skuad terisi dana baru sebesar 70 juta pound yang sanggup dipakai Rodgers utk memperkuat tim. Ditambah penggawa lama dan sekitar tokoh muda yang dijual murah, Rodgers mempunyai sumbangan dana banyak sekali guna borong tokoh dalam bursa transfer.

Di sinilah posisi blunder mula-mula Rodgers pada musim 2014/15. Kala berbelanja dalam musim panas silam, Rodgers bertambah menegaskan dalam stok tokoh demi intensitas regu ketimbang menutup perginya Suarez. Sungguh membingungkan tatkala perbisnisan transfer sudah hampir selesai, tak tersedia satu striker top kendati yg didatangkan ke Anfield. Sampai hasilnya Mario Balotelli singgah

VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 0 (from 0 votes)

Pasang bola online – Asal usul dan Trivia Piala AFF: Macan yg Mengaum atas Tenggara

Category : Agen Sbobet

Piala AFF sewajarnya lahir di masa yg tak begitu menggembirakan. Tak lambat setelah kelahirannya, resesi ekonomi menjangkit ke mana-mana, ke segala negara, termasuk Asia Tenggara. Belum lagi guncangan politik yg melanda sejumlah negeri, turut mengganggu keterusterangan pertandingan tertinggi dalam Asia Tenggara itu.test1

Faktanya, usikan ini tak berimbas banyak. Piala AFF-lah yg kemudian jadi tonggak berkembang juga meratanya mutu sepakbola pada Asia Tenggara.

Tatkala pertama kali muncul, Thailand serta Singapura tampak kuat. Mereka berputar merebut kondisi puncak. Di awal penyelenggaraannya, ditemui jurang kualitas yang sangat amat lebar antar negara. Kekuatan sepakbola momen itu masih berada di tangan Thailand, Singapura, Malaysia, Vietnam, juga Indonesia. Sementara itu, negara bagaikan Filipina juga Brunei Darussalam masih acap memerankan bulan-bulanan musuh.

Perlahan negara-negara pada Asia Tenggara mulai melakukan penyesuaian. Terdapat peningkatan mutu dengan berbagai cara, mulai dr naturalisasi pemain sampai penerapan pertandingan berjenjang yang dikelola mengacu pada betul-betul. Masa ini, lawan telah menerka Filipina dan Myanmar serupa calon juara.

Piala AFF digelar 2 tahun sekali. Ini yg menghasilkan pembinaan di negara2 Asia Tenggara seolah tidak sempat berhenti. Tahun ini berlatih, tahun depan bertumbuk semoga mimpi dapat acap diraih.

Sepakbola seperti magnet yang memiliki hasil terhadap unsur pada luar sepakbola. Dipastikan, sebagai juara di ajang tertinggi se-Asia Tenggara dengan otomatis hendak mengangkat citra negara.

Dgn tahap selaku persaingan tertinggi, Aliansi Sepakbola Asia Tenggara, AFF, pun menghasilkan undang-undang baru. Khusus pada cabang olahraga sepakbola pada SEA Games, tiap negara cuma mampu mengimbuhkan pemain dgn usia di bawah 23 tahun. Aturan ini setanding dengan apa yg diterapkan pada Olimpiade & Asian Games.

Aturan tersebut meraup upaya bermakna untuk negeri yang benar-benar melaksanakan pembinaan usia dini. Para pemain muda diuji pada SEA Games. Kedudukan Sea Games menjadi krusial guna ujian perdana sekaligus gelanggang menumbuhkan pengalaman bertanding pemain muda pada level internasional. Tujuan sudahnya tentu saja bermuara di Piala AFF. Prestasi tinggi dalam level ini menghasilkan mimpi tak lagi sepadan ilusi, namun merealisasikannya sampai benar2 berlangsung.

Urusan penguasaan prestasi juga format pertandingan, Piala AFF mungkin dibagi di dalam 2 era. Uniknya, era tersebut ada sangkut pautnya dgn sponsor yang mengantongi kuasa penerapan nama resmi pertandingan.

Piala AFF lahir pada 1996 dgn nama “Piala Tiger” atau “Tiger Cup”. Masalah ini tidak lain soalnya sponsor laga ini yakni produser bir bermerek “Tiger” sumber Singapura. Kala itu, kiblat sepakbola dalam Asia Tenggara tengah berkiprah di Thailand dan Singapura. Thailand dikenal meraup potensi tokoh berbakat, sementara Singapura demikian sungguh-sungguh menggalang udara sepakbola.

Negeri lainnya ibarat Indonesia, sangat berhajat utk mengambil gelar internasionalnya. Pada level senior, tim nasional Indonesia terakhir kesempatan juara pada SEA Games 1991 yg dihelat pada Jakarta. Sebab SEA Games tak lagi menjadi pertandingan tertinggi, oleh sebab itu seluruh pelaksanaan sepakbola terfokus dalam Piala AFF juga Piala Asia.

Terdapat suatu optimisme kala tersebut tatkala PSSI menyatu persaingan Perserikatan juga Galatama dalam 1994. Peleburan tersebut mengikat pemain – pemain yg dengan tradisional kuat dengan prestasi oleh cerita, dengan skuad kompeten yg tdk dibiayai APBD. Iklim berpengalaman kendati start berasa di Liga Indonesia kala itu.

Selain tersebut, PSSI meraup acara jangka lama dgn menyebarkan benih muda pada luar negeri utk menimba ilmu. Memang, tidak semua berjaya, tapi sebagian di antara mereka memerankan kunci tim nasional Indonesia pada Piala AFF tahun 2000 serta 2002.

VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 0 (from 0 votes)

Taruhan online indonesia – Prancis Tundukan Swedia 1-0

Category : Agen Sbobet

Prancis mendominasi Swedia pada duel friendly dalam Stade Velodrome. Walaupun itu sebab performa oke kiper Swedia Andreas Isaksson, Prancis harus menunggu sampai menit ke-84 utk memastikan keunggulan 1-0 lewat gol daripada Raphael Varane.test1

Menyuguhi Swedia, Rabu (19/11/2014) subuh WIB, Prancis menghasilkan peluang ketika perjuangan menduduki menit ke-11 dengan perantara operan atas Paul Pogba yang disambut sepak Layvin Kurzawa, meski bola belum tepat pada bahan. Enam menit sesudah itu tembakan Pogba juga sedang mengangkasa daripada gawang Swedia.

Prancis menerima kesempatan emas bagi memimpin dalam menit ke-36 begitu Andre-Pierre Gignac melepaskan operan ke arah Antoine Griezmann pada kotak hukuman Albania. Walau demikian perundingan akhir kurang sip dr Griezmann menciptakan kiper Andrea Isaksson tetap dapat mengamankan bola.

2 menit setelah tersebut Swedia kembali siap bernafas lega selesai serbuan Prancis kembali tidak berhasil gol. Berasal atas sasaran silang Dimitri Payet yang gagal diantisipasi Isaksson, bek Emil Krafth kemudian coba mengusik bola sekalipun si kulit bundar sekiranya menghadap ke gawagnya sendiri. Beruntung buat Krafth dan Swedia, arahnya tetap belum benar-benar pas & sedang merebak.

Swedia kemudian menghasilkan Prancis tersentak empat menit pra diturunkan minum. Lewat aksinya Isaac Kiese Thelin sukses menyerbu bola pada arah gawang Prancis, menghasilkan kiper Steve Mandanda mesti melakukan penyelamatan di kolong mistar gawang tuan rumah.

Empat menit di mula ronde ke-2 Isaksson kembali melindungi gawang Swedia. Periode ini dr usaha Gignac yg meneruskan operan dari Dimitri Payet. Isaksson terus-terusan diuji, di antaranya dalam menit ke-60 dgn menghalangi bola tembakan Griezmann setelah itu menolak bola tembakan tokoh pengganti Prancis Moussa Sissoko di menit ke-79.

Tapi gawang Isaksson alhasil jebol pula momen laga menyisakan enam menit pada waktu normal. Dr satu buah terjangan pojok, kiriman bola Griezmann sukses disambut Raphael Varane pada tiang deket dalam menghancurkan Isaksson yg periode ini mesti mengadopsi bola dari di dalam gawangnya

Semenit selesai tersebut Prancis menerima kesempatan emas guna menambah keberhasilan selesai wasit menyatakan titik putih dampak handball dr Oscar Wendt. Karim Benzema kemudian maju untuk menjadi algojo… walau masih gagal menyelesaikan tugasnya setelah mengirim bola melangit dr target. Tak tersedia lagi gol yang tercipta dalam sisa waktu.

Impak itu menciptakan Prancis telah menanjak tak terkalahkan pada enam kompetisi berderet-deret sehabis Piala Dunia, di mana 4 di antaranya mampu dimenangi–melawan tim-tim tangguh semacam Spanyol dan Portugal.

Di perkelahian kesempatan tersebut Les Bleus dicatat ESPN tampak dominan bagi Swedia. Selain unggul penguasaan bola 64%-36%, Prancis juga mencetak enam tembakan tepat incaran dr 28 percobaan, berbeda dengan Swedia memproduksi lima tembakan saja di mana cuma dua di antaranya yang memfokus pada tujuan.

Susunan Pemain

Prancis: Pogba, Guilavogui ; Valbuena (Lacazette 68′), Payet (Sissoko 61′), Mandanda; Sagna, Mangala, Varane, Kurzawa (Digne 78′); Griezmann; Gignac (Benzema 68′).

Swedia: Isaksson; Larsson, Kallstrom (Forsberg 46′), Kacaniklic (Forsberg 86′); Krafth, Jansson, Granqvist (Durmaz 46′), Bengtsson (Olsson 46′); Bahoui, Thelin, Zengin (Hrgota 67′).

VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 0 (from 0 votes)

Agen bola dan casino – Instinct Hunt: Selebrasi 2 Dekade Predator

Category : Agen Sbobet

Udah 20 tahun semenjak pertama kali Adidas meluncurkan seri Predator; satu diantara sepatu yg terlaksana tonggak diperlukan untuk teknologi sepatu sepakbola, kendati satu yg terpopuler pada jagat lapangan hijau. Adidas menyelesaikan peringatan 2 dekade predator dgn memelopori anak teranyar: Pemangsa Instinct Hunt.test1

Predator, gak siap dipungkiri, ialah salah satu titik bermanfaat di kemajuan teknologi sepatu sepakbola. Desainnya memang terhitung lumayan sederhana, namun secara teknologi sepatu itu dapat dibilang sepatu tercanggih saat pertama kali diluncurkan.

Perjalanan Predator diawali oleh seorang mantan tokoh Liverpool, Craig Johnston. Usai purna karya, Johnston yang menyampaikan ‘Si Merah’ memikat lima gelar Liga Inggris kembali ke tanah kelahiran orang-orang tuanya, yaitu Australia. Di sana, dia membuang waktu utk mengurus anak-anak.

Katanya untuk 1 babak kursus, Johnston pernah mohon budak asuhnya guna menendang bola dengan kian baik, lebih teratur, & bertenaga. Namun anak-anak ini ketegangan, dan kemudian bertutur dalam Johnston jika sepatunya terlalu licin. Sebabnya tak lain soalnya sepatu yang dipakai anak-anak tersebut dibuat dr kulit plus kondisi detik itu sedang hujan.

Jangka itulah Johnston miliki ide bagi menangkap satu bat pingpong, memungut struktur karetnya, juga menempelkannya pada sepatunya. Sepatu eksperimennya tersebut dan kemudian serta-merta diboyong keluar dan dicoba buat menyepak bola. Hasilnya? Voila! Karet di sepatu membuatnya kian gampang mengeloskan kesan tertentu saat menendang bola, dan tentu saja sepatunya sekarang bisa semakin ‘menggigit’ bola.

Dari sepatu prototipenya itulah Johsnton lalu mengembangkan ide lebih jauh, menggabungkan karet dgn kulit kanguru yg ringan serta fleksibel. Belakangan Johnston pula menambahkan ide lainnya tentang teknologi sol Traxion yg hingga kini dimanfaatkan Adidas.

Meskipun demikian, sepatu prototipe Johnston awalnya tak diterima sama sejumlah industri menyerupai Nike dan Reebok, bahkan Adidas seorang diri. Tapi, selepas sukses merekam Franz Beckenbauer, Karl-Heinz Rummenigge, & Paul Breitner mempergunakan sepatunya untuk kriteria salju, Johnston mampu meyakinkan Adidas dalam membeli hak rancangan prototipe ini juga meraih 2% daripada sekujur penjualan. Disebut-sebut butuh tempo hingga lima tahun guna memastikan jika idenya hendak berhasil.

Semenjak saat itu, sepatu prototipe Johnston meloncat sebagai Predator juga sebagai bagian daripada cerita sepakbola. Predator kendati langsung berevolusi dgn beraneka ragam pengembangan yang dilakukan oleh Adidas. Berdokumentasikan setidaknya terdapat 14 seri predator yang lahir berikutnya.

Membuntuti berjaya kemunculan si ‘kakak sulung’, Predator Rapier lahir pada 1995. Adidas mengolah balik susunan karet pada sepatu dan bertambah besar menempatkan kulit kanguru demi kesenangan. Tahun selanjutnya lahirlah Predator Touch. Lalu sambung-menyambung Predator Accelerator (1998), Predator Presicion (2000), Predator Mania (2002), Predator Pulse (2004), Predator Absolute (2006), Predator PowerSwerve (2007), Predator X (2009), Predator RX (2010), Adipower Predator (2011), Predator LZ (2012), serta yang terakhir ialah seri Predator Instinct (2014)

VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 0 (from 0 votes)

Usaha sampingan – \\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\’Instinct Hunt\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\’: Perayaan Dua Dekade Predator

Category : Agen Sbobet

Udah 20 tahun sejak pertama kali Adidas memelopori seri Predator; satu diantara sepatu yang jadi tonggak penting di dalam teknologi sepatu sepakbola, kendati 1 yg terpopuler dalam jagat lapangan hijau. Adidas menutup petunjuk 2 dekade predator dengan meluncurkan anak terkini: Predator Instinct Hunt.test1

Predator, tak bisa dipungkiri, ialah salah satu titik berarti untuk perkembangan teknologi sepatu sepakbola. Desainnya benar2 terhitung cukup sederhana, tapi mengacu pada teknologi sepatu ini sanggup dibilang sepatu tercanggih saat mula-mula kali diluncurkan.

Pengembaraan Predator diawali sama seorang mantan pemain Liverpool, Craig Johnston. Setelah purna karya, Johnston yang menjatuhkan ‘Si Merah’ mengait lima gelar Liga Inggris balik ke tanah kelahiran orang-orang tuanya, yakni Australia. Di sana, dia menghabiskan saat dalam mengatur anak-anak.

Katanya dalam satu bagian kursus, Johnston pernah memohon budak asuhnya untuk menendang bola dgn kian baik, semakin terarah, & kuat. Tetapi anak-anak ini kerumitan, kemudian bersuara pada Johnston kalau sepatunya amat licin. Sebabnya gak lain sebab sepatu yg dikenakan anak-anak itu terbuat atas kulit plus keadaan ketika tersebut sedang hujan.

Saat itulah Johnston memiliki ide guna menangkap 1 buah bat pingpong, mengambil permukaan karetnya, juga menempelkannya pada sepatunya. Sepatu eksperimennya tersebut lalu segera dibawa menongol serta dicoba guna menyepak bola. Hasilnya? Voila! Karet di sepatu menciptakan bertambah mudah menyampaikan kekuatan tertentu kala mendepak bola, juga tentu aja sepatunya waktu ini bisa semakin ‘menggigit’ bola.

Dr sepatu prototipenya itulah Johsnton kemudian menyebarkan ide bertambah jauh, menggabungkan karet dgn kulit kanguru yang ringan & fleksibel. Belakangan Johnston juga menambahkan ide lainnya tentang teknologi sol Traxion yang hingga kini dikenakan Adidas.

Walaupun demikian, sepatu prototipe Johnston mulanya gak diterima sama sekitar perusahaan diantaranya Nike dan Reebok, lebih dari itu Adidas seorang diri. Akan tetapi, selepas mampu merekam Franz Beckenbauer, Karl-Heinz Rummenigge, dan Paul Breitner mempergunakan sepatunya di dalam kriteria salju, Johnston sukses meyakinkan Adidas buat membeli hak design prototipe ini juga mendapatkan 2% daripada semua penjualan. Disebut-sebut perlu tempo hingga lima tahun buat meyakinkan jika idenya hendak berhasil.

Mulai saat ini, sepatu prototipe Johnston merembet jadi Predator dan jadi bagian atas cerita sepakbola. Predator kendati langsung berevolusi dengan beraneka ragam pengembangan yang dilakukan oleh Adidas. Tercatat setidaknya terselip 14 seri predator yang lahir berikutnya.

Menyusul sukses kelahiran sang ‘kakak sulung’, Predator Rapier lahir di 1995. Adidas mengatur kembali rupa karet di sepatu serta lebih besar membuat kulit kanguru demi kenyamanan. Tahun selanjutnya lahirlah Predator Touch. Lantas sambung-menyambung Predator Accelerator (1998), Predator Presicion (2000), Predator Mania (2002), Predator Pulse (2004), Predator Absolute (2006), Predator PowerSwerve (2007), Predator X (2009), Predator RX (2010), Adipower Predator (2011), Predator LZ (2012), serta yang terakhir merupakan seri Predator Instinct (2014)

VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 0 (from 0 votes)

free bolatangkas – Belanda Singkirkan Latvia Enam Gol Tanpa Balas

Category : Agen Sbobet

Belanda memetik tiga angka di dalam pihak keempatnya dalam kualfikasi Piala Eropa 2016. Menjamu Latvia, Belanda bersuka-suka setengah lusin gol dgn kemenangan telak 6-0.test1

Pada Amsterdam Arena, Senin (17/11/2014) dinihari WIB, Robin van Persie memelopori acara gol Belanda kepada Latvia dalam menit ke-6. Arjen Robben menaikkan keunggulan tuan rumah di menit ke-35, sebelum Klaas-Jan Huntelaar membuat Oranje menganeksasi paruh waktu dengan penguasaan 3-0.

Di putaran ke 2, tepatnya menit ke-78, Jeffrey Bruma menambah keberhasilan Belanda. Robben, yang terlihat impresif sejauh kompetisi, dulu mencipta gol keduanya di menit ke-82, sebelum Huntelaar mengakhiri perjamuan gol Belanda 2 menit menjelang berakhirnya saat normal.

Dampak ini menyelesaikan jajaran dua kegagalan berangkaian Belanda yg pra itu kalah 0-2 dari Islandia di pihak kualifikasi & dan kemudian 2-3 daripada Meksiko di dalam kelompok friendly.

Perolehan tersebut menciptakan Belanda waktu ini mengoleksi enam poin dr empat duel, untuk duduk pada stan jabatan tiga klasemen Grup A pada pangkal Republik Ceko serta Islandia yang sama-sama memiliki 9 poin & baru 3 kali bermain–keduanya pula bakal bersomplokan subuh ini.

Sementara Latvia mematung pada posisi empat pada raihan dua nilai hasil dari dua kali seri & 2 kali kalah.

Robin van Persie langsung memproduksi Belanda unggul tempo kompetisi baru melintas enam menit. Sebuah sodoran sasaran silang dari Arjen Robben dengan jitu disambut tandukan Van Persie ke panduan tiang jauh.

Enam menit setelah itu Robben balik meneror barisan puri Latvia. Ia berjaya menerima celah dan menembak, walaupun bola belum tertuju ke sisi incaran.

Bisnis Latvia merespons belum menghadirkan hasil. Operan atas Aleksandrs Fertovs memang bisa diteruskan Valerijs Sabala dgn sundulan, walaupun haluan si kulit bundar tetap menyimpang atas gawang Belanda.

Gol ke-2 di laga dan kemudian lahir dalam menit ke-35, kembali dalam belanda, juga daripada kombinasi yang serupa laksana gol sebelumnya kendati dgn keterlibatan yang tidak sama. Robben menghalangi bola di kanan dan lalu bekerja serupa satu-dua dengan Van Persie pra mencopot terjangan jitu yg gak kuasa dihalau kiper Aleksandrs Kolinko.

Sebelum tempo turun minum Belanda balik menaikkan keunggulannya untuk Latvia. Daripada sisi kiri Ibrahim Afellay mengirim bola ke depan gawang, bagi disambut Klaas-Jan Huntelaar dengan sontekan jitu meski ada di kolong bimbingan pemain lawan.

Keberhasilan Belanda baru kembali bertambah ketika pertandingan mencengkeram menit ke-78. Van Persie balik berkontribusi kali ini dgn menyampaikan sepak sudut Wesley Sneijder buat lalu disambar Jeffrey Bruma guna menciptakan gol keempat Belanda.

Delapan menit menyambut bubaran, Georginio Wijnaldum yang baru beberapa menit merasuk mengirim Van Persie memberikan bola ke haluan Robben yang setelah itu sekali lagi memamerkan aksi individunya sebelum menyodorkan kiper Kolinko mengakui bola atas pada gawangnya buat periode kelima dalam perkelahian.

VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 0 (from 0 votes)

Tempat judi bola – Italia vs Kroasia Berakhir Seri

Category : Agen Sbobet

Italia pernah unggul terlebih dulu untuk Kroasia lewat Antonio Candreva. Namun keunggulan gak bertahan lama dimana Ivan Perisic merekam gol penyama kedudukan. Ke-2 tim kendati berbagi 1 nilai dengan skor 1-1.test1

Perkelahian Kualifikasi Piala Eropa 2016 yang melintas pada San Siro, Senin (17/11/2014) dinihari WIB tersebut berjalan tak tertutup. Kroasia semenjak pembukaan mengaktualkan pressing ketat terhadap tuan rumah, sementara Italia mengetes melakukan hantaman gesit via ke 2 sayap.

Italia dapat memimpin semakin dahulu lewat sepak Candreva di menit ke-11. Akan tetapi penguasaan Gli Azzurri tak bertahan lama selesai Perisic menyepadankan tingkat dalam menit ke-15.

Pada ronde ke 2, Kroasia bertambah bergairah juga lebih kuat untuk penguasaan bola. Selama Italia berupaya menggebuk lewat serbuan balik gesit. Namun, kedua kesebelasan tak sukses mencipta gol sambungan sampai pertengkaran usai.

Perkelahian itu sudah dihentikan lebih kurang 10 menit saat memasuki menit ke-72. Semula kembang api menghujani lapangan, gak lama lewat kerusuhan berlangsung di tribun bagian pendukung Kroasia. Selesai kondisi balik kondusif, wasit memutuskan teruskan pertentangan.

Dengan kinerja sama mata ini, Kroasia & Italia masih meninggali kondisi satu-dua Grup H dengan bersambungan dgn sama-sama mengoleksi nilai 10 atas 4 pertandingan. Di simpulan keduanya merupakan Norwegia dengan 9 angka, yg pada duel lain menang tipis 1-0 bagi Azerbaijan.

Sementara itu Bulgaria main sama mata 1-1 kontra Malta. Dengan berangkaian Bulgaria (3 poin), Malta (0), Azerbaijan (0) menepati stan jabatan 4-6

Ivan Rakitic membantu tembakan keras atas luar kotak penalti pada menit ke-6. Namun demikian Gianluigi Buffon dengan lincah mengelokkan. 3 menit berselang, peluang Luka Modric mengerjakan percobaan, pula kandas pada tangan Buffon.

Lebih dahulu terjepit, Italia tambahan pula meraih keunggulan dalam menit ke-11. Bermula atas aksi Simone Zaza di dalam tempat hukuman. Usai tembakannya diblok bek, bola gambaran yang kembali di dalam penguasaan Zaza lalu kemudian disodorkan kepada Antonio Candreva dalam depan kotak sanksi.

Candreva lantas membidikkan tembakan keras ke pojok kiri gawang dan tidak mampu dihentikan Danijel Subasic.

Tapi keberhasilan tersebut tidak bertahan lama. 4 menit dan kemudian, Kroasia menyamakan kedudukan. Ivan Perisic melakukan tusukan dalam sisi kiri & berlari ke tengah.

Aksinya diakhiri tembakan mendatar yang sebetulnya mengarah akurat ke Buffon. Namun, perkiraan si kiper kurang baik oleh karena itu bola melewatinya & masuk ke gawang.

Italia mencebloskan satu buah peluang bagus pada menit ke-34. Lewat ofensif tangkas, Roberto Soriano melepaskan umpan silang dari kanan menghadap ke Mattia De Sciglio yang tidak terkawal dalam deket tiang jauh. De Sciglio menguji menerima bola dengan sepakan voli, tapi menyimpang.

VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 0 (from 0 votes)